Malin yang Tidak Lupa Ibunya – Cerita tentang Berbakti
Di sebuah desa nelayan di Sumatra Barat, tinggal seorang anak bernama Malin bersama ibunya. Mereka miskin, tetapi saling menyayangi. Ibu Malin selalu berkata, “Jangan pernah lupa dari mana kamu berasal.”
Ketika besar, Malin merantau ke kota dan bekerja keras di kapal dagang. Bertahun-tahun kemudian, ia menjadi saudagar yang kaya dan punya kapal sendiri.
Teman-temannya berkata, “Malin, kamu sekarang orang kaya. Untuk apa pulang ke desa kecil itu?” Malin teringat cerita lama tentang anak durhaka yang melupakan ibunya. Ia menggeleng.
Malin pulang ke desa membawa hadiah. Ia berlari memeluk ibunya di dermaga. “Ibu, semua ini berkat doamu.” Ibunya menangis bahagia, dan seluruh desa merayakan anak yang tidak lupa pada ibunya.
Pesan Moral (Moral of the Story)
Seberapa pun suksesnya kita, jangan pernah melupakan orang tua.
English Summary
Inspired by the famous West Sumatran legend of Malin Kundang (a son turned to stone for denying his mother), this version follows a young Malin who leaves his fishing village, becomes a rich merchant, and chooses to return home and embrace his mother, remembering that his success came from her prayers.
Kosakata (Vocabulary)
- ibu – mother
- desa – village
- nelayan – fisherman
- merantau – to leave home to seek one’s fortune
- kapal – ship
- berbakti – devoted to one’s parents
Image: Kritzolina / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
More: Indonesian Short Stories · Stories in 14 languages · Srikaram home
✍️ Have a story or article to share? Submit it for review and get published on Srikaram.org.
