Lampu Kecil di Malam Lebaran – Cerita Hari Raya
Malam takbiran telah tiba. Suara takbir terdengar dari masjid, dan rumah-rumah dihiasi lampu dan pelita. Aisyah membantu Ibu menyalakan pelita di teras.
Aisyah melihat rumah di ujung gang masih gelap. Di sana tinggal Nek Minah, yang tinggal sendirian karena anak-anaknya bekerja jauh di kota.
“Bu, boleh aku membawa satu pelita untuk Nek Minah?” tanya Aisyah. Ibu tersenyum dan menyiapkan juga sepiring ketupat dan opor. Mereka berjalan bersama ke rumah Nek Minah.
Nek Minah membuka pintu dan matanya berbinar melihat pelita yang menyala. “Terima kasih, Nak. Malam ini Nenek tidak merasa sendirian.” Aisyah memeluknya. Itulah Lebaran paling bermakna baginya.
Pesan Moral (Moral of the Story)
Kebahagiaan hari raya terasa lengkap saat kita berbagi dengan orang lain.
English Summary
On the eve of Eid (Lebaran), Aisyah helps light oil lamps and notices the house of Grandma Minah, who lives alone, is still dark. Aisyah and her mother bring her a lamp, ketupat rice cakes and chicken curry. Grandma Minah feels less lonely, and it becomes Aisyah’s most meaningful Eid.
Kosakata (Vocabulary)
- Lebaran – Eid al-Fitr
- takbiran – eve of Eid, with chanting
- pelita – oil lamp
- masjid – mosque
- ketupat – rice cake in woven leaves
- nenek – grandmother
Image: North Italian 16th Century / Wikimedia Commons, CC BY 4.0
More: Indonesian Short Stories · Stories in 14 languages · Srikaram home
✍️ Have a story or article to share? Submit it for review and get published on Srikaram.org.
